1
1
Kawasan mangrove membentang di pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Akarnya yang menjulur ke air payau bukan sekadar lanskap pesisir, juga menjadi tempat ikan, udang, dan berbagai biota laut berkembang sebelum akhirnya menjadi sumber pangan masyarakat. Dari sembilan kabupaten dan kota di Kaltim, Kabupaten Berau memiliki sekitar 86.000 hektar hutan mangrove, terluas dibandingkan daerah lain di provinsi ini. Luasan itu menjadikan Berau sebagai salah satu benteng ekosistem mangrove penting di Bumi Mulawarman. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, sebagian hutan mangrove itu berubah menjadi tambak dan kawasan permukiman. Dorongan ekonomi membuat warga membuka lahan demi budidaya udang dan ikan bandeng, meski perlahan mereka menyadari bahwa hilangnya mangrove juga berarti hilangnya penyangga kehidupan pesisir. Salah satu wilayah yang mengalami perubahan tersebut berada di Kampung Pegat Betumbuk. Sejak 1998, sebagian kawasan mangrove di kampung ini telah terbuka untuk tambak. “Pegat Batumbuk ini dikenal sebagai salah satu kampung penghasil udang di Kabupaten Berau,” ucap Abdurahman, salah satu petambak dari Kampung Pegat Betumbuk akhir Februari. Data menunjukkan, pada 2019 sekitar 11.237 hektar atau sekitar 13% kawasan mangrove di Berau telah terkonversi menjadi tambak udang dan ikan bandeng. Seiring waktu, warga mulai menyadari bahwa perubahan tersebut juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar. Sebagian tambak menjadi kurang produktif, sementara ekosistem pesisir ikut rusak. Kondisi itu mendorong sebagian masyarakat untuk mulai memikirkan cara lain dalam memanfaatkan lahan tanpa harus terus membuka hutan mangrove. Mereka menjaga mangrove, apalagi, secara ekologis, memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting. Ekosistem ini juga menjadi tempat perlindungan keanekaragaman hayati…This article was originally published on Mongabay