1
1
Baru berkembang sejak awal abad ke-20, industri plastik kini telah menjadi masalah global–yang mungkin sulit diselesaikan oleh semua negara di dunia. Plastik dapat ditemui di gunung, sungai, hingga lautan. Setelah puluhan tahun, beberapa plastik mungkin masih terlihat utuh, namun sebagian lainnya berubah menjadi butiran makro hingga mikro, lalu menyusup ke rantai makanan, yang tidak hanya mengancam manusia, tapi juga sejumlah satwa terancam punah. Hal ini dikuatkan melalui penelitian terbaru di Thailand yang menemukan adanya mikroplastik di 26 sampel kotoran kucing bakau (Prionailurus viverrinus), satwa langka yang juga ada di Indonesia dan sangat bergantung pada ekosistem lahan basah. “Keberadaan mikroplastik pada kucing penangkap ikan sebagai predator puncak menunjukkan kontaminasi di seluruh ekosistem yang memengaruhi berbagai tingkat trofik dalam jaring makanan lahan basah,” tulis penelitian Wongson dan kolega (2026) berjudul “Occurrence of Microplastics in Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) scat: Hidden Threats to Wetland Ecosystems of Thailand”. Sebelumnya, sejumlah penelitian juga menemukan adanya kontaminasi mikroplastik pada kucing bakau di Sri Lanka dan kucing liar lainnya, termasuk kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) di Taiwan. Kucing bakau terkena polusi plastik karena memakan ikan yang sudah terkontaminasi. Hewan penyaring seperti kerang dan serangga air tidak bisa membedakan plastik dengan makanan alami, sehingga mereka menelan banyak mikroplastik. Ketika hewan-hewan ini dimakan oleh ikan atau udang, plastik tersebut berpindah dan menumpuk di tubuh mereka. “Hal ini kemudian menciptakan jalur yang terdokumentasi untuk transfer mikroplastik ke spesies predator, termasuk kucing penangkap ikan,” tulis penelitian tersebut. Kucing bakau (Prionailurus viverrinus) yang disebut juga Fishing Cat sangat bergantung pada…This article was originally published on Mongabay