1
1
Di balik rimbunnya hutan mangrove di lepas pantai Pulau Vanua Levu, negara Fiji, terdapat sebuah daratan kecil seluas 3.000 meter persegi yang ternyata menyimpan rahasia ribuan tahun. Selama ini, para peneliti menduga pulau rendah tersebut hanyalah tumpukan sedimen sisa terjangan tsunami purba yang membeku oleh waktu. Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Geoarchaeology pada Maret 2026 justru mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan. Daratan ini ternyata bukan terbentuk oleh amukan alam. Ia adalah sebuah “pulau sampah” raksasa yang lahir secara tidak sengaja dari sisa-sisa jamuan makan malam manusia sejak 1.200 tahun silam. Awalnya, para ilmuwan menduga kuat bahwa pulau ini terbentuk akibat amukan geologi dari Fiji Fracture Zone, sebuah zona sesar transformasi aktif di dasar samudra yang mempertemukan Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia, di mana pergeseran tektoniknya sering memicu gempa dangkal serta tsunami dahsyat yang mampu menghempaskan material laut jauh ke daratan Vanua Levu. Namun, saat tim peneliti pimpinan Patrick D. Nunn mulai melakukan penggalian dan survei geoarkeologi yang lebih teliti, teori bencana alam tersebut perlahan runtuh. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 70 hingga 90 persen material pembentuk pulau ini terdiri dari cangkang kerang yang bisa dimakan. Jenisnya sangat spesifik, didominasi oleh kerang darah (Anadara antiquata) dan berbagai spesies kerang bakau. Para peneliti tidak menemukan campuran pasir laut acak atau fragmen terumbu karang mati yang biasanya menjadi ciri khas deposit tsunami. Menariknya, kepiting bakau (Scylla serrata) yang membuat lubang di sana tanpa sengaja membantu kerja para ilmuwan. Hewan ini mendorong material dari kedalaman 50 sentimeter ke permukaan tanah.…This article was originally published on Mongabay