1
1
Ekosistem karst merupakan wilayah penting sekaligus rapuh. Ia terkenal karena kemampuannya menyediakan air minum bagi lebih 20 persen populasi global, serta menjadi rumah sejumlah spesies unik dan penting, yang menjaga ekosistem tetap sehat. Awal Maret 2026, sekelompok peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan serta mendeskripsikan satu spesies baru keong darat, yang sejauh ini hanya tercatat di Sumatera Selatan. Ia dinamakan Chamalycaeus dayangmerindu, termasuk kelompok keong Caenogastropoda yang memiliki tutup cangkang (aperture). Dari namanya, keong ini ditemukan di kawasan Karst Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan –yang terkait cerita legenda Putri Dayang Merindu. Dalam publikasi di jurnal ZooKeys, dayangmerindu menambah keanekaragaman Cyclophoroidea yang awalnya memiliki 90 spesies. Dari jumlah tersebut, 29 spesies (termasuk 9 subspesies) sudah lebih dulu dianggap endemik. “Temuan ini menekankan keanekaragaman hayati unik di wilayah tersebut,” tulis Aulia dan kolega (2026), dalam laporan berjudul “Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.” Selama penelitian, sebanyak 3.780 spesimen Cyclophoroidea dikumpulkan dari karst Padang Bindu yang terdiri tiga gua, yakni Gua Harimau, Gua Putri dan Gua Selabe. Selain dayangmerindu, para peneliti juga menemukan empat spesies endemik Sumatera, yakni Diplommatina liwaensis Aldrich, 1898; Diplommatina wilhelminae Maassen, 2002; Plectostoma kitteli Maassen, 2002 (subfamili Diplommatininae); serta Chamalycaeus dayangmerindu sp. nov. (subfamili Alycaeninae). Ayu Savitri Nurinsiyah, salah satu penulis sekaligus peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN mengatakan, seperti spesies keong darat lainnya, dayangmerindu termasuk kelompok “neglected species” atau spesies terabaikan yang jarang diteliti, namun…This article was originally published on Mongabay