1
1
Ratusan orang memadati rumah joglo milik Joko Prianto di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, Jawa Tengah (Jateng) Kamis (23/3/26) siang. Di bawah gerimis, mereka begitu bersemangat mengikuti arakan gunungan ketupat yang mereka gelar setiap kali Lebaran. Kali ini, kegiatan yang populer dengan sebutan Kupatan Kendeng itu mengangkat tema Nyawiji Nolak Molo. “Maksud temanya adalah bersatu menolak molo yang bisa diartikan sebagai celaka, bencana, hama, dan segala hal buruk lainnya. Molo di Pegunungan Kendeng ini yang paling terlihat ialah tambang semen,” kata Joko. Kegiatan ini digelar dengan mengarak gunungan ketupat ke rumah joglo yang juga menjadi simbol perlawanan warga Tegaldowo terhadap industri semen. Menariknya, acara ini juga turut dihadiri warga dari lokasi lain yang tengah alami kondisi serupa. Seperti Wonogiri, Purworejo dna lainnya. Sejak 2013, warga Tegaldowo gigih menolak kehadiran tambang dan pabrik semen. Meski tambang tetap berjalan dan pabrik tetap beroperasi hingga sekarang, usaha penolakan itu tak pernah surut. Joko yang juga Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) mengatakan, dampak dari tambang dan pabrik semen sudah warga rasakan. “Debit air jelas berkurang karena karst yang jadi sumber air dirusak pihak semen, banyak warga sakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), sampai tiga tahun terakhir ini langganan gagal panen,” katanya. Buntut debit air yang terus berkurang, warga terpaksa memperdalam sumur mereka hingga 10 meter. Tak hanya warga Gunem, wilayah di Rembang lain juga terdampak krisis air ini akibat mata air yang digunakan PDAM berkurang akibat Cadangan Air Tanah (CAT) Watuputih yang kini rusak. Sementara serangan ISPA karena operasi pabrik semen yang…This article was originally published on Mongabay