1
1
Persawahan Desa Wanga, terluas di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Barat, mulai menghijau, padi mulai berbulir tetapi rasa was-was menghantui para petani. Para petani dari Masyarakat Adat Patawang Wanga ini resah soal ketersediaan air. “Areal persawahan ini semuanya dialiri dengan air dari sumur galian dengan menggunakan mesin pompa,” sebut Mbada Halatamu kepada Mongabay, September lalu. Deru mesin pompa yang bekerja mengaliri air itu terdengar saat Mongabay bertandang ke pondoknya di tengah persawahan. Terlihat juga saluran irigasi di samping pondoknya yang membelah persawahan. Sejak 2017, saluran itu baru bisa terisi air saat hujan. “Para petani yang punya modal pasti membeli pompa air agar bisa panen dua kali setahun. Kalau tidak punya modal, paling setahun hanya tanam sekali saja saat musim hujan,” terang pria 65 tahun itu. Jurnal Pertanian Agros mencatat Sumba Timur, sebagai wilayah yang tidak pernah absen memproduksi padi setiap tahun. Padi sawah jadi paling mendominasi di sana. Jurnal itu mengutip data BPS NTT 2020 yang mencatat produksi padi sawah Sumba Timur tahun 2015, sebesar 778.808 ton dari luas panen 188.092 hektar. Terus meningkat hingga puncaknya pada 2018 1.067.121 ton dari luas panen 247.759 hektar. Lalu menurun pada 2019 menjadi 993.791 ton dari luas panen 233.252 hektar. Sementara luas panen padi sawah di Kecamatan Umalulu 899 hektar dengan produksi 3.420 ton. Rata-rata produksi per hektarnya mencapai 38,04 kulintal atau 3,804 ton. Saluran irigasi di areal persawahan Wanga, Desa Wanga, Kabupaten Sumba Timur yang tidak berfungsi saat musim kemarau. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Krisis air Kabupaten Sumba Timur terkenal…This article was originally published on Mongabay