Popular Posts

Para Perempuan Pelestari Obat Hutan Batin Sembilan

Sore itu Yunani (40) berjalan cepat menuju hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya di Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi. Suaminya sedang meriang. Dengan sebilah parang kecil di tangan, perempuan dari komunitas Batin Sembilan itu mencari pasak bumi di dalam hutan. Akar tanaman itu akan direbus malam ini sebagai obat penurun panas. Bagi Yunani dan masyarakat adat Batin Sembilan, hutan bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga apotek keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pasak bumi yang diperolehnya, dia kupas sebagian akarnya tanpa diambil seluruhnya. Yunani tahu betul cara memanen tanpa merusak pohon. “Kalau untuk sumber obat-obatan, pokoknya obat-obatnya masih melimpah di sini.” sebut Yunani. Baginya hutan bukan hanya sebagai ladang nafkah, tetapi juga apotek keluarga. Hutan yang dia maksud adalah bagian dari kawasan Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia. Di dalamnya, kelompok Yunani mendapat hak kelola melalui skema kemitraan kehutanan. Yunani dan keluarganya adalah anggota Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan. Mereka adalah warga adat yang sudah bergenerasi mendiami wilayah DAS Batanghari. Suku ini adalah salah satu rumpun suku asli Melayu Kuno yang ada di Jambi. Dalam tradisi lisan, komunitas ini merupakan keturunan tokoh leluhur yang menurunkan sembilan kelompok yang menghuni wilayah sembilan sungai (batin), tempat mereka sejak itu bermukim. “Saya anggota Masyarakat Batin Sembilan sekaligus Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo. KTH ini 90 persen anggotanya adalah perempuan,“ ujarnya. Karena anggotanya didominasi perempuan, kelompok ini menjadi unik. Melalui skema kemitraan kehutanan, KTH Maju Besamo mengelola 399 hektare hutan secara komunal.…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *