1
1
“Air ndak biso naik lagi. Tengok sungai macam ini,” kata Mat Dong, warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Jambi. Dia menunjuk ketinggian air Sungai Batang Merangin yang tak lebih dari sejengkal. Mat Dong dan warga desa yang lain khawatir air sungai susut. Danau Kerinci mengalir menuju hulu Sungai Batang Merangin, melewati petak-petak sawah kering dan tanah yang mulai merekah. Di atas jembatan gantung Mat hanya bisa menatap sawahnya yang mulai penuh rumput liar. Dalam tiga bulan setelah panen akhir 2025, sawah terbengkalai karena tak ada air. “Kek mano kami mau nanam, kalau ndak ado air.” Semua bermula pada Januari 2026. Permukaan Danau Kerinci tiba-tiba menyusut drastis. Air yang biasa menelan bebatuan di dasar danau perlahan mundur, menyingkap batu-batu besar yang kini mencuat seperti pulau-pulau kecil. Danau yang berubah wajah itu cepat menyebar di media sosial, membuat Danau Kerinci viral. Banyak warga meyakini perubahan itu bukan kebetulan. Mereka melihat, sejak PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) dengan pengelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), uji coba turbin pada 1–16 Januari 2026, debit air Danau Kerinci berubah drastis. Di hulu Sungai Batang Merangin, Desa Karang Pandan, aliran air nyaris lenyap. Sungai yang biasa mengalir deras mendadak menyempit dan dangkal. Semua aliran air seolah ditarik menuju pintu air yang perusahaan bangun di Desa Pulau Pandan pada 2025—sekitar satu kilometer dari Karang Pandan. Sepanjang 200 meter hulu sungai diubah besar-besaran. Dasar Sungai Batang Merangin dikeruk lebih dari lima meter, lebar menjadi sekitar 17 meter. Tiga pintu besi raksasa, masing-masing berbobot sekitar lima ton,…This article was originally published on Mongabay