1
1
Pada Jumat, 13 Maret lalu, dini hari, Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) kena siram air keras oleh dua orang berkendara motor di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Malam itu, Andrie mau kembali ke rumah setelah rekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.” Berbagai kalangan pun bereaksi. Mereka mengutuk tindakan teror dan kekerasan kepada aktivis HAM ini. Mereka menyatakan, teror yang Andrie Yunus alami ini tanda bahaya bagi pembela HAM dan lingkungan. Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional mengatakan, tragedi ini bukan hanya ancaman terhadap pribadi Andrie tetapi upaya pembunuhan terhadap hak asasi manusia (HAM). “Sebab apa yang dilakukan oleh Andrie juga para pejuang lingkungan dan pembela HAM lainnya adalah upaya agar negara dapat menjalankan tanggung jawabnya untuk menghormati, melindungi dan memenuhi HAM,” katanya kepada Mongabay, Sabtu (14/3/26). Dia mendesak, pengurus negara membongkar kejahatan ini baik penyiram air keras maupun aktor di baliknya. “Kalo pengurus negara gagal membongkar kejahatan ini, siapa pelakunya, bukan hanya yang mengeksekusi tetapi juga aktor intelektual dibaliknya, maka pengurus negara juga menjadi bagian dari kejahatan itu,” katanya. Kejadian ini, kata Uli, juga bukti kekerasan dan kejahatan jadi wajah negara ini. Penguasa, katanya, bukan lagi untuk melindungi rakyatnya. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pun mengutuk keras dan mengecam tindakan terhadap Andrie. “Bagi KPA, serangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, serangan ini merupakan bentuk teror politik yang secara nyata mengancam keselamatan para pembela HAM serta mempersempit ruang demokrasi di Indonesia,” kata…This article was originally published on Mongabay