Popular Posts

Nelayan Jayapura Terdampak Rencana Blok Migas Northern Papua

Dermaga Dok 9, Distrik Jayapura Utara, Kabupaten Jayapura, Papua ramai dengan aktivitas nelayan. Beberapa perahu bersandar, para nelayan ada yang sibuk memperbaiki dan merapikan perahu maupun  alat pancing. Sejak akhir tahun lalu, mereka resah karena hasil tangkapan terus menurun dan wilayah tangkap terancam operasi Blok Migas Northern Papua.  Yonas Lawan, anggota Kelompok Nelayan Karya di Inpres Dok 9 Jayapura khawatir masa depan mereka  terancam. Tak hanya cuaca yang seringkali tak menentu, rumpon kelompok nelayan, yang menjadi sumber utama tangkapan kena putus paksa oleh kapal surveyor PT Huatong Service Indonesia (HSI). Kapal ini sedang melakukan pemetaan potensi migas dalam proyek Blok Migas Northern Papua.  Padahal satu rumpon bisa menelan biaya Rp50-Rp100 juta. Tiap kelompok nelayan yang terdiri setidaknya 10 orang, biasa memiliki dua rumpon dengan jarak beragam.   “Kami kaget, kami rasakan mereka sudah ganggu kami punya piring makan,” kata  Yones, Selasa (14/4/26).  Bagi nelayan, rumpon adalah nadi kehidupan nelayan pesisir utara dan selatan Kota Jayapura. Mereka menangkap tuna, cakalang, tongkol dan ikan lainnya untuk kehidupan sehari-hari.  Para nelayan Kosmos Kendi (kanan) dan Koordinator Nelayan BW Woi Asbani Wiyawari di Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua pada Senin (14/4/2026). Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia Yonas bilang, bisa menyekolahkan keenam orang anaknya, bahkan ada satu yang sudah menjadi sarjana dan bekerja.  “Kehidupan nelayan tergantung dari rumpon. Kita tak diberitahu, rumpon nelayan diputuskan (oleh tim surveyor), lalu dibawa ke darat,” katanya. Dia bingung harus bekerja apa jika wilayah tangkap dan rumpon-rumpon mereka hilang. Kekhawatiran sama juga Kosmos Kendi, nelayan dari Kelompok BW…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *