1
1
Desa Agusen berada di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan hutan lindung di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Nama Agusen telah lama dikenal. Sejak masa kolonial Belanda, daerah ini dijadikan pengasingan bagi penderita kusta (lepra). Setelah Indonesia merdeka, citra tersebut berubah. Agusen dikenal sebagai daerah penghasil ganja. Stigma itu melekat lama di ingatan masyarakat Aceh. Namun, tidak semua warga bergantung pada tanaman terlarang tersebut. “Dulu hanya sebagian dari kami menanam ganja. Ada juga yang bertani, termasuk kopi,” kata Anhar, warga Agusen, Kamis (26/3/2026). Sejak 2015, warga mulai mengubah arah ekonomi desa. Mereka perlahan mengembangkan potensi wisata. Agusen menawarkan bentang alam asri, mulai hamparan sawah hingga kebun kopi. Wisatawan juga dapat menikmati kejernihan Sungai Agusen, yang merupakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas-Singkil. Pemandangan terbaik dapat dinikmati pagi hari, saat matahari terbit. Agusen pada 2026 dinobatkan sebagai desa wisata di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, karena potensi alamnya yang indah. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Pada April 2016, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menetapkan Agusen sebagai desa wisata. Keindahan alam dan potensi sungai menjadi alasan utama, sekaligus sebagai langkah memutus mata rantai peredaran ganja. Berbagai fasilitas dibangun, seperti gazebo, pondok wisata, mushala, hingga jembatan penghubung desa. Sekitar 800 warga turut berbenah menyambut perubahan tersebut. “Saat libur, banyak wisatawan datang dari berbagai daerah. Mereka umumnya menikmati wisata sungai,” terang Ramadan, Kepala Desa Agusen, Jumat (27/3/2026). Pertanian kopi juga berkembang. Harga menjanjikan serta pasar yang mulai terbentuk, membuat masyarakat semakin tertarik menanam. “Kehidupan masyarakat jauh…This article was originally published on Mongabay