Popular Posts

Kisah Haru Orangutan dan Bayi Kembarnya di Habitat Rusak Kalimantan Timur

Satu individu orangutan betina bersama dua bayi kembarnya ditemukan di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu (14/2/2026). Ketiganya berada di hutan terfragmentasi yang berbatasan dengan areal kebun sawit dan tambang batubara. Tim BKSDA Kalimantan Timur bersama CAN (Conservation Action Network), melakukan translokasi pada Minggu (15/2/2026). “Habitatnya terfragmentasi, kiri kanan sudah ada kegiatan pembangunan. Kami memutuskan melakukan rescue bersama mitra,” jelas M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim, Rabu (4/3/2026). Evakuasi dilakukan bertahap dan terukur. Tim melakukan pengamatan sehari sebelumnya untuk memastikan lokasi sarang. Tindakan penyelamatan dilakukan pagi hari ketika orangutan turun dari pohon. Keselamatan satwa menjadi prioritas utama selama proses berlangsung. Setelah dievakuasi, induk dan kedua bayinya menjalani pemeriksaan kesehatan. “Ketiganya sehat dan tidak ditemukan gangguan fisik berarti. Sang induk masih memiliki kemampuan untuk kembali hidup liar,” jelas Ari. Pada hari yang sama, ketiganya ditranslokasi ke area High Conservation Value (HCV) yang masih berada dalam satu lanskap di Kecamatan Bengalon. Jaraknya, sekitar 30 menit perjalanan darat dari lokasi penemuan. “Kami tidak bisa melepasliarkan terlalu jauh, karena pertimbangan kondisi bayi dan keselamatan induknya.” Ari menegaskan, saat ini masih ada orangutan yang bertahan di sejumlah kantong hutan kecil di tengah tekanan pembangunan. Keterbatasan pakan, air, serta ruang jelajah membuat peluang bertahan hidup orangutan dalam jangka panjang semakin kecil, bila tanpa intervensi penyelamatan. “Translokasi merupakan upaya terakhir. Namun, tekanan habitat tidak memberi banyak pilihan. Saat ini, yang harus diperhatikan adalah bagaimana ekonomi masyarakat tetap jalan, namun kelestarian satwa terjaga,” jelasnya. Orangutan bernama Jane dan dua anak kembarnya hidup di hutan terfragmentasi yang…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *