1
1
Darja tengah memilah sampah plastik dan botol bekas di gunungan sampah Zona 4 Kecil Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, siang itu, 8 Maret lalu. Dia letakkan sampah pilahan itu di lapak beratap terpal biru, sampah tidak terpakai dia buang kembali ke drum penampungan. Berjarak tiga meter dari drum, Darja melihat seorang bocah menaruh barang-barang pilahan di dekat gundukan sampah yang terlihat seperti bekas longsor. Dia lantas memperingatkan bocah itu. “Kok kamu menaruh barang di situ? Itu kan bekas longsor!” Bersebelahan dengan lapak Darja, berdiri warung kecil tepat di seberang gunungan sampah setinggi 50 meter. Di sana, Sumine dan Enda Widayanti, menantunya, melayani pengemudi truk yang menunggu antrean buang sampah. Usai buang sampah, Darja fokus membelah karung dengan gunting. Belum juga putus terbelah karung itu, seketika Darja mendengar teriakan Enda. “Mang iku!” Dia menoleh ke kiri. Alangkah terkejutnya dia melihat truk-truk yang sedang mengantre tergulung longsoran sampah, sebagian ada yang terhempas hingga ke Sungai Ciketing. Darja berlari secepatnya, menjauh dari lokasi. Dia khawatir skala longsor makin meluas, apalagi sebelumnya terlihat bekas longsor di titik lain. Enda sempat menggenggam tangan Darja untuk ikut berlari. Genggamannya terlepas lantaran kaki Enda lebih dulu tertimbun longsoran sampah. Darja makin cepat berlari, dia melompat berkali-kali menghindari gelombang sampah hingga ke lokasi aman. Alat berat di TPA Bantargebang. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia Dari kejauhan, dengan napas tersengal, Darja tidak melihat lagi Enda dan Sumine. “Warungnya sudah ke-uruk sampah. Lapak saya juga. Titik longsornya banyak,” ujar pria asal Indramayu itu saat ditemui Mongabay di rumahnya,…This article was originally published on Mongabay