Popular Posts

Cemaran Abu PLTU Tenayan Raya Resahkan Warga Pekanbaru

Lebih dari setahun Marni, bukan nama sebenarnya, harus masak di ruang tengah rumahnya. Pasalnya, dapur rusak tertimbun sebagian abu bekas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tenayan Raya, Riau. Padahal, jaraknya sekitar tujuh kilometer dari pembangkit itu. Ibu enam  anak itu sudah lebih tiga tahun tinggal di Badak Ujung, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru. Di sana, dia menyewa mesin pencetak batu bata berikut tungku pembakarnya. Nasibnya kian suram ketika hujan tiba. Bangunan yang berdiri di bawah bukit kecil itu kerap terendam. Air masuk ke rumah, atap bocor di mana-mana. Dia terpaksa mencari tempat kering hanya untuk bertahan sampai hujan reda dan air surut. “Kalau hujan lebat, bedeng (rumah) masuk air. Kadang semata kaki sampai sebetis. Anak-anak usaha buang keluar. Setelah surut, lap lagi (lantai) pakai kain. Kalau hujan, siap-siap sajalah cari mana yang tak basah. Di situlah tidur.” Tak hanya rumah, tanaman sekitar juga mati. Pohon-pohon sawit berdiri tanpa pelepah hijau. Awal dia tinggal di situ, ada empat pohon kelapa. Saat ini, tersisa dua batang yang tegak tapi tak pernah berbuah lagi. “Sebelum tertimbun (abu batu bara) masih dipanen orangnya.” Meskipun demikian, tungku pembakaran batubara masih selamat. Karena, belasan meter di bawah timbunan abu sisa pembakaran batubara (fly ash bottom ash/FABA), tertimbun beberapa tungku dan mesin pembuatan batu bata serupa, beserta gubuk atau tempat tinggal para pekerja. Produksi batu bata di lokasi itu sudah berlangsung sejak 1980-an. Seorang pemilik warung di sekitar lokasi, bilang, PLTU Tenayan Raya membuang FABA di wilayah itu pagi hingga sore. Setahu dia, tujuan awalnya adalah untuk menimbun kembali…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *