Popular Posts

Menguak Jejaring Jual Satwa Liar Online Modus Samarkan Produk

Tiga burung bubut Jawa (Centropus nigrorufus) usia sekitar dua minggu terkurung tanpa induk di toko satwa liar, Station Sato Exotic, di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  medio November 2025. Jordan Bastian, penjaga sekaligus pemilik Sato Exotic mengeluarkan dua satwa dilindungi itu dari kandang, lalu memberinya makan dedak. Dia akan mengirim burung endemik Pulau Jawa itu ke Purwokerto dengan menitipkannya pada supir bus antar provinsi. IUCN, lembaga otoritas konservasi satwa liar tingkat global, pertama kali memasukkan burung bubut Jawa ke dalam daftar merah sebagai spesies rentan pada 1994. Status ini tetap sama dalam penilaian terbaru yang terbit pada 2025 di tengah terus menurunnya populasi, yang kini diperkirakan kurang dari 10.000 dewasa. Bubut Jawa itu dibanderol Rp175.000 per ekor. Dia katakan,   satwa ditangkap langsung dari habitat liarnya di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia  mengaku, penyuplai burung dari kenalan yang punya banyak pasokan bubut Jawa siap jual ke pelanggan. Habitat satwa berstatus terancam ini di dataran rendah dengan vegetasi rapat, ketinggian mencapai 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pada 2024, populasi bubut Jawa diperkirakan tersisa 2.500 hingga kurang dari 10.000 di alam. Toko Sato Exotic juga menjual satwa liar lain, seperti reptil, musang, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), hingga burung hantu jenis tyto alba dan celepuk reban. Mereka juga memasarkan lewat aplikasi Tokopedia, termasuk burung bubut Jawa. Padahal, Tokopedia melarang penjualan satwa terancam punah di platformnya. Toko Sato Exotic menjual burung hantu jenis yang tidak dilindungi. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Jual samarkan produk Tim investigasi Bellingcat dan Mongabay menelusuri aktivitas toko…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *