1
1
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Warga pesisir Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali mayoritas menjadi nelayan. Mereka memanfaatkannya hasil alam tanpa pengelolaan terorganisir. Sejak 2005, secara inisiatif mandiri mereka membangun ekowisata mangrove Batu Lumbang untuk peningkatan ekonomi, kesejahteraan warga dan menjaga lingkungan. Sejak pukul tujuh pagi, Wayan Wana sudah sibuk menurunkan kano kecil, mendayungnya dengan pelan ke tepian mangrove. Tiap hari dia menyusuri pesisir wilayah mangrove Batu Lumbang untuk mencari kepiting. Di beberapa titik, Wana turun dari perahu. Lumpur hitam setinggi betis tidak menghalanginya berjalan. Lalu memeriksa lubang di sekitar akar mangrove. “Asal ada waktu, saya cari kepiting. Kalau tidak, bersihin sampah,” katanya. Sehari-hari, dirinya juga menjaga kawasan ekowisata ini. Biasanya dia rutin menyambut pengunjung, membersihkan area hingga sampah-sampah di sela-sela akar mangrove. Hutan mangrove di pesisir selatan Kota Denpasar memiliki permasalahan timbulan sampah dari dua sungai besar, yakni Tukad Badung dan Tukad Mati. Sejak 2005, masyarakat nelayan setempat memulai pengembangan ekowisata dari kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian lingkungan. Tak hanya itu, harapannya kawasan ini juga bisa menjadi alternatif penghidupan bagi warga pesisir. Dahulunya kawasan ini adalah tambak. Sejak 2005, masyarakat menyulapnya menjadi kawasan ekowisata mangrove. Foto: Kadek Dian Dwiyanti H./ Mongabay Indonesia Baca juga: Saat Mangrove di Blok Ngurah Rai Dominan Pemanfaatan, Apa Dampaknya Bagi Warga? Wisata edukasi mangrove Batu Lumbang Tak hanya menawarkan keindahan alam. Di kawasan ini, pengunjung menikmatinya melalui jalur tracking, susur sungai dengan perahu, bermain kano dan berbagai aktivitas edukatif lainnya. Para perempuan juga membentuk…This article was originally published on Mongabay