Popular Posts

Gerakan Tanam Mangrove di Biak: Peran Mama-Mama dan Ingatan Tsunami 1996

Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba. Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1996. Gempa utama terjadi kira-kira pukul 12.59 WIT, dengan kekuatan sekitar 8,2 Moment Magnitude (Mw), akibat aktivitas tektonik lempeng Samudera Pasifik. Di beberapa tempat di lokasi pesisir, ketinggian gelombang mencapai hingga tinggi 7 meter. Dalam kepanikan di sore itu, Efraim mencari tempat tertinggi yang bisa ia jangkau. Dia menemukan sebatang pohon, lalu bersama saudaranya, dia memanjat hingga sekitar sepuluh meter. Di atas sana, mereka bertahan berjam-jam, menunggu air surut. Ketika gelombang akhirnya mereda, ia turun dan menyaksikan wajah kampungnya, Kampung Tanjung Barari—yang oleh warga juga disebut Menurwar—Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Papua telah berubah. Banyak kerusakan terjadi, meski syukurnya tidak ada korban jiwa. Peristiwa itu tertanam kuat dalam ingatannya—bukan sekadar sebagai bencana, tetapi sebagai titik balik yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap alam. Efraim Rumkoren, salah satu tokoh masyarakat dan penggagas restorasi mangrove di Tanjung Barari, Biak Numfor. Foto: Ridzki R SIgit/Mongabay Indonesia Tiga puluh tahun berselang, sebagai saksi sejarah kampungnya, Efraim melihat perubahan yang tak kalah mengkhawatirkan. Garis pantai bergeser semakin masuk ke daratan. Di depan Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Bahtera Injili, ia memperkirakan pergeseran itu mencapai sekitar 30 meter. Abrasi itu nyata. Dia pun mulai menghubungkan antara bencana…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *