Popular Posts

Nasib Hutan Sagu Ketika Industri Nikel Masuk Pulau Obi [1]

Junaid Nomor,  hanya bisa menatap hampa menyaksikan hamparan hutan sagu menghitam di sisi kiri jalan ketika perjalanan dari kampung menuju Sungai Akelamo. Hutan sagu itu tergenang sedimentasi lumpur, limbah pengerukan di bukit meluber sampai ke rawa tempat sagu tumbuh. “Sagu-sagu itu so mati samua,” katanya sambil menunjuk ke arah hutan sagu, saat kami pergi ke kebun bersama beberapa warga tahun lalu. “Sagu lain dong gusur, dong timbun bikin perumahan, deng yang sisa ini dong kase mati [perusahaan telah menggusur sagu, menimbun buat perumahan, dan yang tersisa juga dimusnahkan].” Junaid adalah warga Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Dulu, dia dan warga biasa olah sagu untuk kebutuhan pangan sehari-hari secara kolektif. Sebagian besar tanaman itu tumbuh liar karena kondisi tanah yang subur. Sekarang, kawasan sagu berubah jadi tandus. Tak ada lagi warga Desa Kawasi yang mengolah sagu untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Area pangan terbesar itu sudah pemerintah alokasikan untuk konsesi pertambangan dan perluasan proyek pembangunan kawasan industri nikel Harita Nickel, di bawah naungan group Harita. “Sekarang so tarada orang yang bikin sagu. Samua orang so makan nasi toh,” kata Junaid. “Nanti kalu mo makan sagu baru beli dari kampung tetangga atau pedagang yang jual di warung..Samua so masuk area perusahaan.” Kawasan Industri Harita Nickel sangat dekat dengan pemukiman warga. Jarak kurang dari 100 meter, tepat di halaman belakang rumah-rumah warga. Deretan fasilitas industri terlihat sangat jelas dari rumah Junaid, mencakup kawasan penambangan, infrastruktur pabrik, hingga pembangkit listrik. Perusahaan ini sedang menjalankan proyek hilirisasi nikel, dari penambangan hingga pengolahan…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *