Popular Posts

Kerak Ungu, Spesies Invasif yang Kian Akrab di Jakarta

Tidak banyak yang menyadari kapan pertama kali kerak ungu muncul di Jakarta. Burung itu sudah ada di taman kota, di jalur pedestrian, bahkan di jantung ibu kota. Hadir tanpa gaduh, tapi perlahan jadi biasa. Di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) hingga Monumen Nasional, kehadirannya kini nyaris tak lagi mengejutkan. Acridotheres tristis hinggap di dahan yang sama dengan kerak kerbau, burung lokal yang lebih dulu akrab dengan lanskap kota. Sekilas tak ada yang berbeda. Keduanya nampak berbagi ruang, mencari makan, lalu terbang kembali ke arah yang tak selalu bisa diikuti mata. Bagi Melisa Qonita (26), citizen science pemandangan itu sudah jadi bagian dari rutinitas sejak 2023. Dia kerap menjumpai kerak ungu di pusat kota Jakarta. “Hampir selalu ada. Bahkan dalam satu pohon bisa bareng kerak kerbau,” ujarnya, Senin (20/4/2026). Tetapi, yang nampak biasa ini menyimpan cerita lain. Kerak ungu bukan spesies asli Indonesia. Kehadirannya diduga akibat introduksi manusia dan ia mampu beradaptasi di lingkungan perkotaan. Walau terlihat koeksis, ada potensi persaingan yang tak kasat mata. Misalnya, kompetisi makanan juga ruang hidup. Spesies invasif, jelasnya, cenderung lebih adaptif dan efisien dalam memanfaatkan sumber daya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran. “Bila dibiarkan, bukan tak mungkin burung lokal akan kehilangan ruangnya sendiri.” Kerak ungu merupakan jenis burung invasif. Foto: Hammas Zia Urrohman Anshari Pola yang konsisten Hammas Zia Urrohman Anshari (26), citizen science lain, menuturkan di Ragunan polanya cukup konsisten. Kerak ungu punya pohon tertentu yang digunakan sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, jumlah yang terlihat sekitar 2-3 individu. Namun, menariknya burung asli dari…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *