Popular Posts

Warga Waswas Ekosistem Gumuk Jember Tergerus Tambang

Gumuk banyak ditemui di Kabupaten Jember, Jawa timur. Bagi masyarakat di  sana, gumuk tak sekadar bentang alam biasa. Ia memiliki hubungan panjang dengan sejarah keluarga, kepemilikan tanah, hingga praktik sosial dan keagamaan masyarakat. Sayangnya,  aktivitas tambang pasir dan batu belakangan mengancam kelestarian bukit-buklt kecil ini. Padahal, keberadaan gumuk berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, penangan angin, hingga sumber mata air. Di Desa Ajung, sejumlah makam terpaksa pindah demi membuka jalan bagi tambang. “Total ada sekitar 80 makam yang ditemukan. Dari jumlah itu ada sekitar 12 yang tidak ditemukan sisa tulangnya,” kata  Dara Quthni, pemilik gumuk kepada Mongabay, Rabu (18/2/26). Dia bilang, ada sekitar 4-5  keluarga dia ketahui memiliki hubungan dengan makam itu. Sebagian besar makam, katanya, sudah tidak terawat  bahkan tak memiliki penanda. “Banyak yang sudah rusak. Tidak ada patoknya lagi.” Sumiati, warga yang makam keluarganya kena relokasi mengatakan, tidak tahu soal pemindahan makam. Dia baru tahu saat makam keluarganya sudah dikeruk. “Pertama kaget waktu ibu cerita, pas ngecek sudah dikeruk gumuknya. Ya mau gimana lagi, sudah tidak ada,” katanya, Jumat (20/2/26). Dia kaget dengan pemindahan makam itu. Apalagi, makam-makam itu  tidak berada di atas tanah sengketa. Di belakang Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat,   juga terdapat gumuk. Warga sekitar menyebut dengan Gumuk Taman. Kepemilikan lahan gumuk itu terbagi dalam beberapa bagian keluarga. Pesantren memiliki bagian sisi barat dan selatan. Bagi Ahmad, salah satu pengasuh pondok tersebut mengatakan, gumuk adalah warisan keluarga yang sarat nilai ekologis dan sosial. “Warisan dari orang tua. Tanah turun temurun yang harus dijaga,” katanya. Pada bagian…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *