Popular Posts

Para Perempuan Muara Enggelam Gerakkan Ekonomi Desa Manfaatkan Energi Surya

Listrik hidup siang maupun malam hari, halusin bumbu pakai blender sampai jualan online di media sosial bisa warga Desa Muara Enggelam,  rasakan setelah gunakan energi bersumber matahari. Para perempuan desa melihat peluang ketersediaan energi ini dengan menciptakan berbagai sumber ekonomi keluarga. Sebelum ada energi surya, kondisi jauh berbeda. Asniah,  masih ingat ketika malam pertama di Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,  tiga dekade lalu. Begitu mentari membenamkan diri di arah barat, desa itu larut dalam kegelapan. Perlahan temaram menyapa dari pelita kecil menyala di rumah-rumah kayu yang masih berjarak. Suara jangkrik, percikan air, dan desah angin menjadi lagu malam yang tak pernah putus. Terkadang suara dari mesin perahu yang membelah jalur air ikut mengusir sepi di permukiman. Bagi Asniah, hidup tanpa penerangan cukup sudah lama menjadi kawan hidup. Asniah lahir di Desa Teluk Muda, Kecamatan Kenohan,  Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada 1980. Sejak awal 1990-an, dia pindah ke Muara Enggelam bersama orangtuanya. Desa di pertemuan Sungai Enggelam dan Danau Melintang itu benar-benar unik.  Tak ada daratan, sebagian besar permukiman terapung. Luas mencapai 10.000 hektar. Perahu menjadi satu-satunya transportasi utama di sana. Sebanyak 195 keluarga atau 750 jiwa hidup di Desa Muara Enggelam. Untuk menuju daratan, warga harus menempuh perjalanan satu hingga dua jam dengan perahu bermesin menuju Kota Bangun. Asniah, warga Muara Enggelam, berbagi cerita kepada media tentang peningkatan ekonominya sejak listrik tersedia selama 24 jam. Akses energi yang stabil memberi ruang lebih besar bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Foto:Yuda Almerio/Mongabay…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *