1
1
Konflik agraria di Padang Halaban, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut), yang melibatkan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) dan warga yang tinggal puluhan tahun di sana, kembali pecah, Kamis (9/4/26). Setidaknya ratusan keamanan dan buruh perkebunan datang ke lahan tempat tinggal ratusan petani, dan mengusir mereka, dua petani pun jadi korban penculikan. Sekitar pukul 08.00 waktu setempat, ratusan orang itu masuk dan menghancurkan pondok-pondok yang petani bangun kembali. Aksi itu mengejutkan anak-anak dan kelompok lanjut usia (lansia) yang masih tertidur, karena dinding rumah mereka tumbang. Seketika, anak-anak menangis dan berlarian ke luar rumah dengan wajah penuh ketakutan. Orang tua berdiri di depan rumah mereka, menolak penggusuran. Adu mulut yang terjadi berujung pada saling dorong dan tunjuk muka. Dalam waktu singkat, warga kena pukul, injak, dan tendang, di bagian punggung, perut dan wajah. Mereka masih bertahan. Sekitar 45 menit, ratusan petugas keamanan dan buruh perkebunan memporak-porandakan pertahanan para petani. “Ngapain kalian di sini, ini bukan HGU kalian! Komisi XIII DPR juga tidak memenangkan kalian, kan,” kata Yusrizal, anggota Kelompok Tani Padang Halaban (KTPH), menirukan ucapan dari orang perusahaan. Bentrokan fisik yang terjadi menyebabkan setidaknya 12 petani luka-luka. Kebanyakan petani perempuan. Suasana pembongkaran paksa hunian petani di Padang Halaban. Sumber: tangkapan layar video dokumentasi warga. Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Sumut, menyebut, dua dari 12 petani yang luka-luka itu hilang, dugaan kuat diculik. Suardi, Ketua IKOHI Sumut, saat Mongabay wawancara, Kamis (9/4/26) malam, bilang, petani yang hilang itu adalah Harry Prantoko dan Benny Kumala. Hal itu dia ketahui…This article was originally published on Mongabay