1
1
Gunung Menumbing, sebuah bukit di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Bukit yang puncaknya 445 meter di atas permukaan laut ini, dikenal bukan hanya sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Hatta di masa pendudukan Belanda, juga rumah bagi beragam jenis flora dan fauna, khususnya mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Minggu (29/3/2026) siang, Mulyadi (49), Teddy Toriko (49), dan Narto (44) mendampingi Mongabay Indonesia memasuki kawasan Tahura (Taman Hutan Raya) Gunung Menumbing yang luasnya 3.300 hektar. Mereka adalah petugas Pamhut (Pengamanan Hutan) Tahura Gunung Menumbing. “Hutan ini habitatnya mentilin,” kata Narto, saat di hutan yang tidak jauh dari sebuah aliran sungai kecil. “Kalau ingin melihat mentilin harus malam hari dan sehabis hujan. Siang hari mereka sulit terlihat, mungkin karena ukurannya yang kecil dan tengah istirahat,” lanjutnya. Meskipun belum ada data pasti populasi mentilin di Gunung Menumbing, Narto memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu. “Semoga mereka hidup aman di sini dan populasinya terjaga.” Mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus) yang menjadikan Tahura Gunung Menumbing sebagai habitatnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Mentilin atau dikenal juga sebagai Horsfield’s Tarsier, adalah primata nokturnal mungil yang bermata besar dan memiliki kaki belakang panjang untuk melompat secara vertikal. “Mentilin sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai satwa endemik Pulau Bangka maupun endemik Indonesia. Mengingat, distribusinya juga mencakup wilayah Malaysia dan bagian lain di Indonesia,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dan dosen di Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam [KSDA], Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (1/4/2026). Dijelaskan Randi, secara ekologis, Tahura Gunung Menumbing memiliki kesesuaian…This article was originally published on Mongabay