Popular Posts

Chandra Sembiring, Ketika Kemanusiaan Bertemu Sinema Alam

Chandra Sembiring, bukan dokter biasa. Ketika dokter biasa hanya berkutat merawat dan mengobati pasien, dokter yang satu ini juga menangani pembuatan film. Beberapa film sudah dia bidani  bahkan menyabet pengakuan internasional. Sejak awal kariernya dia terlibat dalam berbagai misi tanggap darurat di daerah-daerah krisis. Dari tsunami Mentawai, Banten juga gempa di Lombok dan Palu maupun Cianjur. Juga, tsunami Banten, kebakaran hutan,  sampai konflik di Nusa Tenggara Timur. Dia juga pernah enam bulan bertugas di kawasan Everest bersama Himalayan Rescue Association, menangani penyakit ketinggian, bidang medis yang jarang dikuasai. “Ribuan orang mungkin merasa saya yang membantu mereka, padahal sebenarnya saya yang diisi oleh mereka,” katanya. Bencana dan alam membentuk cara berpikir Chandra. Dia terbiasa merancang operasi darurat secara taktis dan strategis, mulai dari evakuasi medis, logistik obat-obatan, hingga masuk ke wilayah yang hanya bisa terjangkau perahu atau berjalan kaki berhari-hari. “Gaya saya memang gaya emergency. Kalau agak ngegas, maklumi.” Pengalamannya berada di berbagai medan dari perang sampai bencana, memunculkan gagasan bikin film sebagai medium membicarakan relasi manusia dan alam. Ia terwujud lewat “Maira, ” film anak berlatar hutan Papua. Pohon yang ditebang di Papua, dan jadi dalam salah satu adegan film Maira. Foto: Dokumen Chandra Sembiring   *** Salah satu adegan kunci dalam film itu merekam tumbangnya sebuah pohon raksasa di tengah hutan. Adegan itu bukan hasil rekayasa, melainkan peristiwa nyata saat proses pengambilan gambar. Bagi Chandra, momen itu merangkum ironi yang ingin disampaikan Maira, yakni, kerusakan hutan di hadapan mata, kerap dianggap biasa. Dalam skenario awal, katanya, tidak ada adegan…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *