1
1
Kepakaran Birute Galdikas pada orangutan diakui dunia. Namun begitu, kedekatannya pada satwa cerdas ini, oleh sebagian konservasionis dikritik, karena dikhawatirkan dapat menghambat prose sifat liar orangutan untuk kembali ke alam. Feeding platform yang menjadi atraksi ekowisata pun, tak luput dari sorotan. Kritik juga dialamatkan pada pendekatan rehabilitasi orangutan. Erik Meijard misalnya, berpendapat, fokus pada rehabilitasi berbiaya mahal tidak menjawab masalah kerusakan habitat satwa yang masif, membuat tren depopulasi orangutan terus terjadi. Melintasi waktu yang panjang, Birute memang identik dengan orangutan. Namun, dia juga sangat peduli dengan habitatnya, bahkan termasuk figur vokal menyuarakan kondisi hutan Indonesia yang memburuk. Hal ini berakibat pada hubungan yang tegang dengan Pemerintah Indonesia. Pada 1992, izin aktivitasnya di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, diancam dicabut. Sebagaimana diberitakan Majalah Tempo (22 Februari 1992), Soeprapto, Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Putting saat itu, menuduh Birute bertindak seperti agen wisata di Tanjung Puting dan menyadap darah orangutan untuk dijual ke luar negeri. Dia dituduh meminta honor kepada majalah di Prancis yang memuat foto-fotonya dan dituding membangun penginapan berbiaya mahal di tepi Tanjung Puting. Birute membantah. Soal mengutip sumbangan pada orang asing, diakui terbatas pada mereka yang datang dengan tujuan bisnis. Sumbangan digunakan untuk membantu biaya rehabilitasi orangutan yang mahal. Soal penyadapan darah, itu dilakukan untuk memastikan jenis orangutan yang direhabilitasi dengan izin pemerintah. Ini karena pemerintah mengatur jenis orangutan (orangutan sumatera atau orangutan kalimantan) harus dipastikan dahulu sebelum dilepasliarkan. Tuduhan itu mencuat setelah sepanjang 1991, Birute mengkritik keras kehadiran PT Hesubasa, perusahaan pemegang izi hak pengusahaan hutan (HPH). Deru mesin…This article was originally published on Mongabay