1
1
Kabar duka datang dari Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) yang masih tutup karena belum lepas dari huru hara pengelolaan. Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara mati karena sakit. Hara mati 24 Maret dan Huru, dua hari setelah itu, keduanya berusia delapan bulan. Usup Supriyatna, perawat kedua satwa ini bilang, Huru dan Hara sakit sejak usia lima bulan. Mereka lahir saat konflik dualisme pengelolaan Bandung Zoo berlangsung. “Saya masih ingat betul proses berjodohan induknya hingga proses melahirkan,” kata Usup saat ditemui, Kamis (26/3/26). Huru dan Hara, lahir dari pasangan Jelita dan Sahrulkan. “Meski terlihat sederhana [proses perjodohan] tapi upaya semacam ini butuh waktu yang panjang.” Ucup berharap, kemelut Bandung Zoo segera menemukan jalan keluar. Baginya, yang dipertaruhkan bukan sekadar pengelolaan kebun binatang, melainkan kelanjutan nasib satwa di dalamnya. Dia tak ingin ada lagi kabar kematian satwa hanya karena konflik klaim pengelolaan. “Semoga kebun binatang ini bisa kembali berjalan seperti biasa. Menjadi tempat yang nyaman bagi pengunjung, dan yang paling penting kesejahteraan satwanya tetap terjamin,” ujar Ucup, yang sudah lebih dari 10 tahun mengabdikan hidup di kebun binatang itu. Sahrulkan, induk jantan Huru dan Hara yang mati karena virus di Bandung Zoo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (26/3/2026). Foto : Donny Iqbal/Mongabay Virus kucing besar Untuk mengetahui penyebab kematian kedua anak harimau itu, tim medis kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan. Agnisa Nur Puspita , Medik Veteriner Ahli Pertama Bidang KSDA Wilayah III Jawa Barat BBKSDA Jabar, mengatakan, hasil pemeriksaan sampel feses menunjukkan Huru dan Hara positif terjangkit virus panleukopenia. Pemeriksaan dilakukan…This article was originally published on Mongabay