1
1
Tulisan ini dibangun berdasarkan laporan dan refleksi mereka, dan juga mengacu pada karya saya sebelumnya, termasuk Tekanan diam-diam konservasi: Para pelindung alam menghadapi krisis kesehatan mental, bersama dengan tulisan lain yang telah saya buat tentang kehilangan, kesedihan, dan ketahanan di lapangan. Tulisan ini juga sejalan dengan Proyek Obituari Alam, serangkaian penghormatan kepada para konservasionis, ilmuwan, dan pembela lingkungan yang telah berpulang kepada Pencipta, yang berakar pada keyakinan bahwa orang-orang yang melindungi kehidupan di Bumi bukanlah orang yang dapat dikorbankan. Saya tidak menulis sebagai seorang klinisi di sini. Saya menulis sebagai seseorang yang mendengarkan apa yang terus digambarkan oleh para konservasionis, di berbagai peran dan wilayah. Tulisan asli artikel ini ada di tautan ini. ***** Ada jenis kelelahan tertentu yang tidak semata berasal dari jam kerja yang panjang. Ia muncul dari kebiasaan untuk terus memperhatikan. Para pekerja konservasi dilatih untuk melihat hal-hal yang sering luput dari perhatian: terumbu karang yang kehilangan warna dan vitalitasnya, hutan yang tak lagi dipenuhi burung seperti dulu, sungai yang membawa semakin sedikit kehidupan dari musim ke musim. Mereka dilatih untuk menghitung, mengukur, dan mendokumentasikan perubahan dengan disiplin. Namun mereka juga orang-orang yang memasuki bidang ini karena kecintaan pada sesuatu di luar diri mereka: spesies, tempat, dan dunia hidup yang dianggap layak untuk dilindungi. Cinta itu bukan kelemahan. Ia adalah sumber tenaga. Namun belakangan, ia juga menjadi sumber rasa sakit. Jalan setapak di Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Foto: Rhett Ayers Butler Pada akhir 2024, Rachel Graham, ilmuwan kelautan sekaligus direktur eksekutif MarAlliance yang berbasis…This article was originally published on Mongabay