1
1
Selama ratusan tahun, masyarakat yang hidup di sekitar lahan basah Sungai Menduk, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, hidup harmonis dengan buaya muara (Crocodylus porosus). Tapi sejak 2022, sering terjadi konflik manusia dengan buaya muara. Mengapa? “Ini terjadi karena banyak rawa dan anak sungai yang merupakan rumah (habitat) buaya muara rusak, akibat penambangan timah liar dan berubah menjadi perkebunan sawit,” kata Suhadi (32), warga Desa Menduk, Kecamatan Menduk Barat, Kabupaten Bangka, Minggu (22/3/2026). Tercatat, lima orang meninggal karena diserang buaya muara dan puluhan lainnya terluka. Mereka yang diserang, umumnya warga yang tengah beraktivitas di sekitar Sungai Menduk. Misalnya, tengah mencari ikan atau mandi. Terakhir Februari 2026, seorang warga Bernama Jauhari (40) alias Buluk yang tengah mencari ikan di Sungai Menduk, tewas diserang buaya muara. Dijelaskan Suhadi, lahan basah Sungai Menduk yang luasnya mencapai 43.200 hektar, sekitar 1.500-1.600 hektar mengalami kerusakan atau berubah fungsi. “Sekitar 900-1000 hektar menjadi perkebunan sawit. Baik milik perusahaan maupun masyarakat. Sementara penambangan timah liar di lahan basah Menduk mencapai 250 titik,” jelas Suhadi, yang juga Manager WKR (Wilayah Kelola Rakyat) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kepulauan Bangka Belitung., Buaya muara yang berkonflik dengan manusia ini berada di penangkaran PPS Alobi Foundation, Bangka, Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indoinesia Sungai Menduk yang panjangnya 41,9 kilometer, merupakan sungai penting dalam sejarah peradaban masyarakat di Pulau Bangka. Di Desa Kota Kapur yang berada di muara Sungai Menduk atau menghadap Selat Bangka, terdapat situs Kedatuan Sriwijaya. Situs ini berupa benteng, pelabuhan, serta percandian Hindu pada masa abad 6-7 Masehi. Di situs tersebut juga…This article was originally published on Mongabay