1
1
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai masif terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di Kalimantan Utara. Selain faktor cuaca, ekspansi industri dan buruknya tata kelola hutan diduga menjadi pemicunya. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Utara (Kaltara) 2024, tercatat 103 karhutla terjadi. Sementara 2025-Agustus saja, sudah ada tujuh karhutla. Di Tanjung Cantik, Desa Binusan, Kabupaten Nunukan, karhutla menghabiskan luasan sekitar lima hektar pada 9 Maret 2026. Hasanuddin, Kepala Sub Bidang Penyelamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan mengatakan, menerima informasi karhutla sekitar satu jam setelah kebakaran terjadi. “Kami memang terima informasi itu sebelum buka puasa sekitar jam 18.20 WITA, dari personel kami juga yang ada di sekitar lokasi,” katanya kepada Mongabay, Rabu (11/3/26). Timnya, langsung bergerak cepat melakukan penanganan dengan bantuan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa. Juga masyarakat sekitar. Sejauh ini, dia belum bisa pastikan berapa total luas lahan yang terbakar. Namun, perkiraanny lebih dari lima hektar yang sebagian merupakan kebunan sawit warga. “Informasi yang kami terima itu ada dua atau tiga orang pemilik lahan,” ungkap Hasan, sapaan akrabnya. Dugaan awal Hasan dan timnya, sumber api berasal dari proses pembukaan lahan oleh warga dengan cara membakar. Namun, karena kondisi angin cukup kencang, api menjadi tak terkendali. Kondisi cuaca yang panas karena tak ada hujan berhari-hari mempercepat api menyebar. “Hari dengan hujan itu cuma sehari. Jadi, ada sekitar enam hari tuh memang kering, nggak ada hujan.” Api baru berhasil dipadamkan menjelang tengah malam, sekira pukul 23.00 WITA. Petugas BPBD menuju lokasi karhutla. Foto: BPBD Nunukan. Pengawasan…This article was originally published on Mongabay