1
1
Investor atau pengusaha batubara harus mulai berpikir ulang ihwal bisnis ekstraktifnya. Pasalnya, sisi tren bisnis hingga lingkungan, sumber energi kotor ini menunjukkan kerugian yang besar. Hasil studi dan riset Publish What You Pay (PWYP) Indonesia memprediksi batubara akan habis dalam 30-50 tahun mendatang. “Ini menjadi gambaran bahwa memang it’s not going to be lasting that long,” kata Ditto Mohammad Ikhsan, peneliti PWYP Indonesia. Sejauh ini, industri batubara jadi penopang utama ekonomi nasional. Kontribusinya terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) di atas 5%. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mencatat melimpahnya sumber daya batubara Indonesia. Jumlahnya mencapai 143,73 miliar ton dan cadangan terverifikasi sebesar 25,83 miliar ton, Sektor ketenagalistrikan masih mendominasi realisasi penggunaan batubara domestik, yakni 57% atau setara 133 juta ton. Smelter sebanyak 30% atau setara 70 juta ton pada 2024. Laju produksi tahunan saat ini sekitar 700-800 juta ton. Jumlah ini melewati batas target produksi yang Perpres 22/2017 tentang RUEN mandatkan, di mana batasnya tidak boleh lampaui 400 juta ton. Ditto bilang, negara peminat batubara Indonesia menunjukkan tren penurunan. Importir utama seperti Tiongkok mulai bergeser ke pemasok lain seperti Mongolia dan Rusia. Selain itu, Negara Tirai Bambu ini juga mulai agresif dalam memperbanyak produksi energi terbarukan di dalam negerinya dan mengurangi perlahan penggunaan batubara. Menurut dia, lonjakan keuntungan 2022 yang sampai berkontribusi 6,6% terhadap PDB ternyata bukan karena peminat batubara Indonesia melonjak. Melainkan efek domino perang Rusia-Ukraina. Krisis global membuat harga batubara melambung. Namun, dia mengingatkan ketergantungan pada fluktuasi eksternal membuat industri batubara rentan guncangan. Dari sisi tenaga kerja,…This article was originally published on Mongabay