Popular Posts

Kerusakan DAS Barito dan Maluka Picu Bencana Kalsel

Kalimantan Selatan (Kalsel) juga alami  banjir parah akhir 2025 hingga awal 2026. Kelompok masyarakat sipil menilai, kondisi ini karena tutupan hutan yang hilang, masifnya alih fungsi lahan, hingga sistem tata air rapuh. Sebelumnya, banjir merendam 11 dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan (Kalsel) periode 27 Desember 2025- 31 Januari 2026. Wilayah terdampak meliputi Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Tapin, Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, Banjarbaru, dan Banjarmasin. Data BPBD Kalsel, periode 1 Desember 2025 – 21 Maret 2026, terjadi 17 kejadian banjir yang berdampak pada 289.483 jiwa. Ia merusak 448 rumah. Data banjir Kalimantan Selatan 31 Desember 2025 – 21 Maret 2026. Foto: tangkapan layar laman BPBD Kalsel. Greenpeace Indonesia memperkirakan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito dan DAS Maluka berkontribusi besar terhadap banjir Kalsel tersebut. Analisis menggunakan data deforestasi University of Mariland terhadap DAS Maluka, dari luas 88.000 hektar, hutan alam yang tersisa hanya sekitar 828 hektar, atau kurang dari 1%. “Kondisi ini membuat kawasan tersebut kehilangan hampir seluruh fungsinya sebagai daerah resapan dan penyangga banjir, sehingga meningkatkan kerentanan banjir di wilayah sekitarnya,” kata Anggi Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia. Data yang sama menunjukkan DAS Barito kini hanya menyisakan sekitar 3,04 juta hektar hutan alam dari total luas 6,2 juta hektar. Ia meliputi Kalsel 1,8 juta hektar, Kalimantan Tengah 4,4 juta hektar, Kalimantan Timur sekitar 8.000 hektar, serta Kalimantan Barat 590 hektar. Di Kalsel, hampir 58% telah terbebani berbagai izin pemanfaatan hutan dan lahan, mencakup konsesi kehutanan (PBPH), perkebunan sawit, dan pertambangan.…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *