1
1
Pegunungan Meratus menyimpan banyak temuan prasejarah. Riset yang berlangsung sejak 1990-an bahkan menemukan jejak eksplorasi manusia purba sejak ribuan tahun yang lalu. Bambang Sugiyanto, penulis buku Budaya di Kawasan Pegunungan Meratus dalam Perspektif Arkeologi terbitan Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut, bukti awal keberadaan mereka berdasarkan temuan di Desa Awangbangkal, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, pada 1938. Wilayah Meratus bagian barat itu, katanya, merupakan daratan yang relatif landai hingga memungkinkan orang hidup menetap dengan pola hunian terbuka (open settlement), memanfaatkan ranting-ranting pohon sebagai peneduh. “Di area bantaran sungai tersebutlah manusia mendirikan gubuk-gubuk sederhana yang cukup nyaman untuk berteduh,” katanya, di Kantor Kerja Bersama (KKB) Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Banjarmasin. Lingkungan sekitar, katanya, juga menyediakan bebatuan yang potensial manusia olah, terbukti dengan temuan alat batu kasar khas Zaman Batu Tua (Paleolitikum) yang penggunaannya dengan cara genggam langsung tanpa tangkai. Sayangnya, bentang alam Awangbangkal ini sudah banyak berubah sejak pemerintah tenggelamkan pada 1963. Menyusul kemudian pembuatan waduk besar “Riam Kanan” sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk hajat orang banyak. Periode berikutnya, hunian bergeser dari pemukiman terbuka di sepanjang aliran sungai ke ruang-ruang alami yang terlindungi di kawasan perbukitan. Manusia mulai memanfaatkan gua atau ceruk pada bukit-bukit karst sebagai tempat berlindung. Iyan, sapaan akrabnya, bilang, orang zaman dulu sengaja memilih gua-gua kering dan terang, serta berukuran cukup luas sebagai hunian baru. Juga tempat berlindung dari panas, hujan, maupun binatang buas. Secara khusus, dia menyebut penelitian Harry Widianto pada 1995-2000 di Bukit Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, yang menemukan dua…This article was originally published on Mongabay