Popular Posts

Belajar dari Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah

Lubang raksasa seluas hampir tiga hektar itu terus merangsek, merobek ladang kopi dan sawah warga di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh. Bahkan longsoran telah memakan jalan yang menjadi urat nadi warga. Kini jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total. Warga tidak menyangka longsoran di lereng yang semula kecil pada 2010 lalu itu kini kian membesar. Longsoran terus bergerak ke utara, selatan dan tenggara. Menenggelamkan tanah garapan, mengancam kehidupan, dan menimbulkan rasa was-was. Jika sebelumnya jalan yang tergerus hanya 4 meter, kini telah mencapai panjang 175 meter. Jarak longsoran ke permukiman pun makin dekat. Kini tinggal 450 meter saja. Warga pun meminta relokasi. Pemerintah dikabarkan tengah menyiapkan skemanya. Berbeda dengan pemahaman publik sebelumnya yang menganggap fenomena di Aceh Tengah sebagai sinkhole, peneliti BRIN menegaskan bahwa yang terjadi ini adalah longsoran. “Itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ungkap Adrin Tohari, dimuat di laman resmi BRIN, Jumat (20/2/2026). Dia adalah Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN. Kenderaan melewati jalan yang rusak akibat bencana longsor yang terjadi akhir November 2025 di Pinto Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Lapisan tufa adalah lapisan batuan piroklastik yang terbentuk dari material vulkanik halus saat terjadi letusan gunung api. Abu ini kemudian mengendap dan mengeras. Menurut Adrin, secara geologi, kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole. Melainkan, endapan piroklastik hasil aktivitas Gunung Api Geureudong yang sudah tidak aktif. Karena material ini secara geologis…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *