Popular Posts

Bagaimana Seharusnya Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau? [2]

  Kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi di Riau sejak bulan lalu dan terus meluas ke berbagai kabupaten. Hadapi karhutla selama ini lebih dominan ke penanganan setelah terjadi, minim mitigasi atau pencegahan. Dalam tulisan Mongabay, sebelumnya menyebutkan, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat,  hingga 26 Februari, karhutla menghanguskan kawasan seluas 1.041,74 hektar di 11 kabupaten dan kota di Riau. Erzansyah, Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Bengkalis  mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi karhutla pada 2026. Dia mengakui luasan karhutla di Kabupaten Bengkalis dalam satu bulan sudah lebih luas dibandingkan luasan dalam satu tahun di 2025. “Faktor ekologi, mulai dari meteorologis dan hidrologis hingga antropogenik, ini tidak bisa dipisahkan dan jadi penyebab karhutla terjadi,” katanya. Dari sisi meteorologis, katanya, kondisi musim kemarau, hari tanpa hujan hingga kecepatan angin pada Januari-Februari lalu turut mempercepat karhutla. “Di Bengkalis itu sudah lebih 21 hari tanpa hujan, mungkin ada hampir 30 hari ya. Belum lagi di Februari itu kecepatan anginnya antara 16-21 km per jam dan karena kemarau, kelembaban udara juga turun hingga 6%,” jelas Erzan mengutip dari BMKG.  Kondisi meteorologis, tambah kondisi hidrologis gambut Pulau Bengkalis yang buruk, kekeringan, pembukaan kanal, hingga tinggi muka air gambut yang tak terjaga mempercepat penyebaran api. Erzan mengamini,  penurunan muka tanah dan air di gambut pada Februari sudah lebih 40 cm. Tentunya ini membuat gambut rentan dan mengakibatkan kekeringan gambut. “Jadi,  sudah masuk ke kondisi critical dry (sangat kering), ini potensi kebakarannya sudah sangat tinggi sekali.”  Proses hukum Walau faktor alam, baik…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *