1
1
Selandia Baru sering kali dianggap sebagai potongan surga yang tertinggal di Pasifik Selatan karena bentang alamnya yang murni. Namun, di balik keindahan perbukitan hijau dan puncaknya yang bersalju, terdapat sebuah anomali biologi yang justru menjadi berkah bagi para penghuninya. Negara ini berdiri sebagai salah satu dari sedikit wilayah di bumi yang sama sekali tidak memiliki ular di alam liarnya. Keunikan ini terasa semakin mustahil jika kita melihat posisi geografisnya di peta. Selandia Baru hanya berjarak sekitar 4.000 kilometer dari daratan utama Australia, sebuah benua yang memegang rekor sebagai rumah bagi ular-ular paling berbisa di planet ini, seperti Taipan Pedalama (Oxyuranus microlepidotus) yang mematikan dan Ular-Cokelat Timur (Pseudonaja textilis). Di sebelah utaranya, terdapat Indonesia, sebuah negara kepulauan tropis dengan kekayaan herpetofauna yang luar biasa, mulai dari King Cobra (Ophiophagus hannah) yang legendaris hingga ular sanca raksasa, misalnya Sanca Kembang (Malayopython reticulatus). Namun, di tengah kepungan wilayah yang kaya akan reptil melata tersebut, Selandia Baru tetap menjadi benteng yang tak tertembus. New Zealand (Selandia Baru) yang tak jauh dari Australia dan Indonesia | WorldAtlas Ketiadaan ular di Selandia Baru bukanlah sebuah kebetulan sejarah atau sekadar keberuntungan iklim semata. Fenomena ini merupakan hasil dari proses geologis yang dimulai jutaan tahun lalu. Untuk memahami mengapa tidak ada satu pun taring yang bersembunyi di balik semak semak hutan Selandia Baru, kita harus kembali ke masa ketika daratan bumi masih menyatu dalam superkontinen Gondwana. Sekitar delapan puluh juta tahun yang lalu, Selandia Baru mulai memisahkan diri dari daratan besar tersebut. Pemisahan ini terjadi jauh sebelum ular modern…This article was originally published on Mongabay