1
1
Angin laut berhembus halus membawa aroma asin laut pesisir Dusun Kuranji, Desa Paremas, Kabupaten Lombok Timur, pada Selasa (31/3/26) pagi. Di tepian dermaga sederhana, beberapa perempuan berdiri menatap laut, menunggu perahu-perahu kecil setelah semalaman melaut. Harniati berdiri dengan keranjang di tangan. Matanya menatap ke kejauhan, mencari siluet perahu suaminya di antara riak gelombang pagi. Dia hafal betul ritme laut, kapan ombak ramah, kapan angin berubah arah, kapan langit memberi tanda hujan tetapi beberapa tahun terakhir, semua itu terasa berbeda. “Sekarang susah ditebak. Kadang cuaca bagus waktu berangkat, tapi tengah malam tiba-tiba angin besar. Kadang laut tenang, tapi ikan tidak ada,” katanya. Harniati berasal dari keluarga nelayan dan menikah dengan nelayan. Selama puluhan tahun, kehidupan rumah tangganya mengikuti musim laut. Jika tangkapan bagus, dapur mengepul tenang. Jika musim paceklik datang, mereka menahan belanja dan berutang ke warung. Menurut perempuan 52 tahun ini, perubahan beberapa tahun terakhir bukan lagi sekadar musim buruk tahunan. Cuaca ekstrem datang lebih sering, angin berubah tak menentu, gelombang meninggi di luar kebiasaan, dan hasil tangkapan makin sulit. Ketika perahu suaminya merapat pagi itu, isi palka perahu mesin 10 PK tidak banyak. Beberapa ikan campuran dan dua keranjang kepiting. Tidak cukup untuk menutup biaya solar, es batu, dan bekal melaut. Meski begitu, Harniati tak terkejut karena sudah terbiasa dengan hasil yang tak menentu itu. Perempuan di Lombok Timur menjemur bahan kerupuk. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Manfaatkan cangkang kepiting Yang tidak biasa adalah langkah yang kemudian dia ambil, membawa pulang cangkang kepiting yang dulu terbuang, lalu mengolahnya menjadi…This article was originally published on Mongabay