1
1
Kawasan Industri Nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) membawa dampak kesehatan dan lingkungan. Studi terbaru Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan kerusakan tidak hanya pada pada ruang hidup fisik, melainkan juga pada udara karena polusi debu logam dan emisi tinggi dari aktivitas pembangkit listrik serta smelter nikel. Laporan itu menyajikan data Dinas Kesehatan Sulteng yang mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 305.191, melonjak dari tahun sebelumnya 262.160 kasus. Morowali menjadi daerah dengan tingkat ISPA tertinggi 57.190 kasus yang berpusat di sekitar kawasan industri pemurnian nikel. Per Januari 2025, Pemkab Morowali bahkan mencatat 51.850 kasus, jadikan kabupaten ini pengidap ISPA terbanyak di Indonesia, dengan terbanyak di Kecamatan Bahodopi. Uli Parulian Sihombing, Koordinator Subkomisi Penegakan HAM Komnas HAM, menduga, peningkatan kasus ini berkaitan dengan polusi dan kualitas udara yang menurun akibat aktivitas industri nikel dan smelter. “Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pertambangan dan smelter berada dalam risiko yang lebih tinggi karena terpapar debu dan emisi dari proses produksi,” katanya. Saking banyak debu dan uap dari smelter, warga sampai menyebut polusi ‘kabut permanen’. Hasil observasi tim Komnas HAM, kabut itu pekat dan menyelimuti pemukiman dan jalanan di sekitar kawasan industri. Masalah kesehatan lain, Komnas HAM mengungkapkan ada peningkatan HIV di wilayah lingkar industri. Kuat dugaan berkaitan dengan masifnya migrasi penduduk tanpa pengawasan sosial yang memadai. Namun, fasilitas kesehatan di kawasan industri nikel ini tidak memadai. Rasio pasien sudah melampaui kapasitas fasilitas kesehatan yang ada. Di Bahodopi, hanya ada satu puskesmas dan satu klinik industri.…This article was originally published on Mongabay