1
1
Pemandangan rumah-rumah yang tenggelam di pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah (Jateng) sudah tak asing lagi. Hanya dalam kurun tiga dekade, hamparan pertanian yang membentang luas tergantikan oleh air laut. Era kurun 1990-an, rob datang hanya sejengkal dan sesekali. Lambat laun, air laut terus merangsek hingga menenggelamkan sawah, tambak, hingga rumah-rumah penduduk. Di Timbul Sloko, satu lokasi terparah, dari ratusan keluarga , kini tersisa 70-an. Mereka yang memiliki biaya dan lahan di tempat lain, bisa merelokasi rumahnya mandiri tetapi tak semua bisa pindah. Himpitan ekonomi memaksa mereka menjual murah lahan bekas tambak yang kini berubah menjadi laut. Salah satunya Baharuddin, yang terpaksa menjual bekas tambak pada 2023. Dia jual hanya Rp20.000 per meter persegi. “Karena memang sudah tak bisa produktif. Sudah benar-benar tenggelam, rata oleh air laut. Kalau pun dibikin tambak, pasti ludes tersapu gelombang,” katanya. Begitu juga dengan Zaini, warga lain yang menjual bekas tambak Rp15.000 per meter persegi. Uang dari hasil penjualan itu dia manfaatkan untuk merenovasi di rumah anaknya dan modal usaha. “Awal 2024-an-lah. Tenggelam gak bisa diapa-apain, mending jual ta, laku berapa aja buat modal jualan di pasar.” Sebagian perkampungan di pesisir Sayung yang tenggelam air laut memicu kehadiran para makelar tanah. Memanfaatkan ketidakberdayaan warga, mereka berseliweran menawar tanah warga dengan harga murah. Rohmad, warga Desa Bedono, misal, menjual murah tanah ke makelar dengan harga Rp8.000 per meter persegi pada 2015. Karena butuh uang, dia tak berpikir panjang. Apalagi saat itu dia sedang relokasi di tempat baru, perlu biaya untuk membangunnya.…This article was originally published on Mongabay