Popular Posts

Nestapa Warga NTT Terdampak Pembangkit Panas Bumi

(Mau tak tambah sumber dulu, aku ada wwcr) Andi Nawa dan  yang lain bergantian menceritakan dampak kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko. Tepatnya di Dusun Turetogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Nusa Tenggara Timur (NTT). Andi mengenang, sebelum pembangkit itu ada, hasil panen kopinya bisa mencapai 350 kilogram. Sejak dua tahun ini, hasilnya terus berkurang hingga hanya dapat 50 kilogram. “Dulu kami disini sering tanam sayur untuk dijual ke pasar, sekarang kami harus beli sayur di pasar,” sebut Andi saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/5/2025). Andi sempat mengajak Mongabay melihat semburan lumpur panas dari lubang-lubang yang berada sekitar 300 meter sebelah utara rumahnya. Dulu, lahan dimana semburan itu berada adalah kebun warga. Namun, dua tahun belakangan ini keluar lumpur panas dengan aroma menyengat dari lubang-lubang yang bermunculan. Pihak perusahaan kemudian membeli lahan tersebut dan memagarinya dengan bambu. “Kalau ada perbedaan, ada warga yang menolak dan menerima kehadiran geothermal bukan urusan kami. Kami warga yang merasakan dampak langsung dari kehadiran proyek ini,” ungkapnya. Pengembangan panas bumi di lokasi yang berada 15 kilometer sisi timur Bajawa, ibu kota Ngada itu berlangsung sejak 1984. Tahun 1997-2002, Direktorat Vulkanologi dan Jepang (GSJ, West JEC, MRC dan NEDO) kemudian bersama-sama melakukan eksplorasi. Kerjasama itu menghasilkan dua sumur, yakni MT-1 dan MT-2. Sementara MT-3 dan MT-4 pengeboran berlangsung pada 2003 oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Sumur semi eksplorasi MT-5 dan sumur reinjeksi MT-6 berhasil terselesaikan pada tahun 2005. Sedangkan pada 2007, pemasangan pipa menuju lokasi Steam Gathering (SG). Di tahun itu pula berlangsung uji…This article was originally published on Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *