1
1
Bagi nelayan, kecipak air di muara kini bukan lagi tanda keberlimpahan ikan. Melainkan, sinyal perlunya kewaspadaan. Sang predator puncak itu mungkin sedang di sana. Reptil purba, yang memiliki kulit bagai zirah, ekor pipih bertenaga, kuat menahan napas berjam di dalam air, dengan gigitan paling mematikan di bumi. Laporan yang dikumpullkan crocattack.org ini bikin miris. Periode 2020 hingga 2024, terdapat 820 serangan buaya di Indonesia. Dari jumlah serangan itu, 414 korban meninggal dunia, yang mungkin diikuti juga oleh terbunuhnya buaya. Catatan itu mengemukakan, lebih dari 95 persen serangan melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus) dan kurang 5 persen buaya senyulong (Tomistoma schlegelii). Padahal, Senyulong dikenal punya karakter pemalu. Jika angka tahunnya diperlebar hingga 2015, jumlah kejadian mencapai 1.167 kasus, dengan korban jiwa mencapai 556 orang. Ini menjadi yang tertinggi di dunia, menyusul India dengan serangan berjumlah 768 kali, dan Papua New Guinea dengan 584 kali. “Yang kami ketahui kini, bahkan tren serangan dan konflik yang melibatkan buaya senyulong juga meningkat,” papar Herdhanu Jayanto kepada Mongabay, Kamis (9/4/2026). Dia adalah ilmuwan konservasi dan manajer program di Yayasan Konklusi, yang fokus pada spesies terancam punah dan terabaikan seperti buaya muara dan senyulong. Di Indonesia, kejadian serangan hampir separuhnya berhubungan dengan aktivitas mencari ikan, yaitu 47,6 persen. Sementara 32,4 persen berhubungan dengan aktivitas domestik water, sanitation, and hygiene. Anggota IUCN SSC Crocodile Specialist Group ini menambahkan, tidak ada penyebab tunggal mengapa angka konflik itu begitu tinggi. Terdapat banyak faktor, mulai dari kegiatan manusia yang menyebabkan hilangnya habitat buaya, tersudutnya ruang hidup, hingga berkurangnya mangsa alami.…This article was originally published on Mongabay