1
1
Selama tiga tahun terakhir, konflik manusia dengan buaya muara (Crocodylus porosus) terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Apakah ini salah satu tanda puncak kerusakan bentang alam di kepulauan yang luas daratannya 1,6 juta hektar? Berdasarkan data Alobi Foundation, dari 2024, 2025, dan awal 2026, tercatat Kabupaten Bangka dengan jumlah konflik tertinggi (24 kasus). Berikutnya, Kabupaten Bangka Selatan (16 kasus), Kota Pangkalpinang (12 kasus), Kabupaten Bangka Barat (7 kasus), Kabupaten Bangka Tengah (5 kasus), Kabupaten Belitung (4 kasus), dan Kabupaten Belitung Timur (3 kasus). Merawang di Kabupaten Bangka merupakan kecamatan dengan konfli tertinggi (10 kasus), diikuti Kecamatan Toboali di Kabupaten Bangka Selatan (6 kasus), dan Kecamatan Mendo Barat di Kabupaten Bangka (5 kasus). Sedangkan desa yang sering mengalami konflik adalah Desa Serdang dan Desa Sungaiselan di Kabupaten Bangka Selatan serta Desa Menduk di Kabupaten Bangka. “Konflik manusia dengan buaya muara terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Sejak 2008, konflik terjadi setiap tahun. Ini menunjukkan konflik manusia dengan buaya muara di provinsi ini sangat serius untuk diatasi. Sebab, bukan hanya memakan korban jiwa manusia, juga kematian beberapa individu buaya muara,” terang Endi R Yusuf, Manager PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Alobi Foundation, Kamis (23/3/2026). Tercatat, 12 buaya muara mati dan 21 manusia meninggal dunia. Puluhan manusia dan buaya muara mengalami luka-luka. Hampir semua wilayah lahan basah di Kepulauan Bangka Belitung terjadi konflik manusia dengan buaya muara. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Merawang adalah wilayah yang sebagian besar berupa lahan basah dan perbukitan. Lahan basah di Merawang…This article was originally published on Mongabay