1
1
Putu Winarta dan Nengah Sinreg sibuk di tengah pematang. Di bawah cuaca yang begitu terik, pasangan suami istri tengah memanen bayam di pinggiran utara Kota Denpasar, Bali, Senin (30/3/26) sekitar pukul 08.00. Sayur-sayur mereka ikat seukuran kepalan tangan dan mencucinya di saluran irigasi. Hasil panen ini mereka jual di Pasar Badung. Walau panen bayam dari lahan seluas dua are ini tak banyak, namun cukup untuk menghidupi mereka. Winarta mengatakan, belakangan, cuaca di Bali cukup panas lantaran tak ada hujan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, tinggi muka air di saluran irigasi pun sudah menunjukkan penurunan. Bagi Winarta, kemarau yang akan segera tiba membuatnya khawatir. “Sebentar lagi musim panas, pasti air makin sedikit. Kami akan sulit bertani,” katanya dalam Bahasa Bali. Sayuran perlu banyak air setiap hari dan baru bisa panen enam minggu setelah penyemaian. Selama ini, mereka hanya mengandalkan saluran irigasi di hilir yang makin menipis saat kemarau. BRIN memprediksi munculnya fenomena El Nino Godzilla yang berdampak pada cuaca panas ekstrem. Konsumsi air yang cukup sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Foto: Asad Asnawi/Mongabay Indonesia. Panas ekstrem Petani merupakan salah satu pihak yang terdampak langsung perubahan iklim. Terlalu basah, tanaman rusak. Sebaliknya, tanpa air atau kurang air sayuran juga mati. Kedua cuaca itu sudah makin terbiasa dialami pasangan petani ini. Perkiraan cuaca, panas ekstrem akan mulai di Pulau Jawa, Bali, dan NTT pada tahun ini. Melalui pengumuman publik dan peringatan cuaca di media sosialnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan, potensi fenomena variasi kuat El Niño “Godzilla” yang akan melanda Indonesia…This article was originally published on Mongabay