1
1
Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran yang sudah berlangsung dua pekan mengganggu pasokan minyak dunia, termasuk Indonesia, sebagai negara importir minyak. Sebabnya, Iran memblokade Selat Hormuz yang merupakan jalur utama pasokan minyak dari Timur Tengah. Reuters melaporkan, militer Iran memasang sekitar selusin ranjau di Selat Hormuz. Aktivitas militer ini menyebabkan kapal tanker pembawa minyak dan gas tidak bisa melintas, sementara sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia biasa melewati selat itu. Gangguan lalu lintas berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. AP News melaporkan, harga minyak brent crude–standar internasional–berada di sekitar US$104 per barel pada Senin (16/3/26), naik hampir 45% sejak Amerika dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Selama perang, harga minyak bahkan sempat melonjak mencapai sekitar US$120 per barel. Kondisi ini juga berdampak pada pasokan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia. Negara maritim ini membutuhkan minyak sekitar 1,5-1,6 juta barel per hari; sedang produksi domestik hanya berkisar 600.000 barel per hari. Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk penuhi kebutuhan nasional. Jika tidak impor, cadangan minyak Indonesia hanya untuk 20-25 hari, selepas itu kebutuhan dalam negeri tidak dapat terpenuhi. Berbagai kalangan pun mengingatkan, pemtingnya kedaulatan energi yang sebenarnya bisa Indonesia penuhi dengan bertransisi dari energi fosil ke terbarukan yang berkeadilan. Pemerintah menyadari ancaman terganggunya pasokan BBM imbas konflik di Timur Tengah itu. Mengutip CNBC, Presiden Prabowo Subianto bahkan menggelar rapat kabinet merespons situasi itu. Menurut dia, kenaikan harga BBM akan berdampak pada banyak hal, termasuk pangan. Karena itu, dia berinisiatif melakukan akselerasi melalui penghematan BBM. “Kita hadapi…This article was originally published on Mongabay