{"id":418,"date":"2026-04-11T11:14:05","date_gmt":"2026-04-11T11:14:05","guid":{"rendered":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/?p=418"},"modified":"2026-04-11T11:14:05","modified_gmt":"2026-04-11T11:14:05","slug":"riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/?p=418","title":{"rendered":"Riset Ungkap Bahaya Mikroplastik di Laut Dalam"},"content":{"rendered":"<p>Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut. Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota. Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam\u00a0 penelitian 2015 di pesisir barat Sumatera. \u201cSaat itu, dengan alat bantu terbatas, kami menemukan ada mikroplastik di kedalaman lautnya,\u201d katanya kepada Mongabay. Menurut dia, masuknya mikroplastik ke lapisan terdalam lautan adalah karena partikel itu bersifat nonpolar yang terlihat menyerupai material organik, hingga memungkinkan partikel menempel pada marine snow. Marine snow atau salju laut\u00a0 adalah hujan detritus organik yang terus-menerus jatuh dari lapisan permukaan laut yang kaya cahaya ke dasar laut yang gelap. Marine snow terdiri dari sisa-sisa tanaman\/hewan mati, kotoran (feses), dan material anorganik lainnya. Ketika mikroplastik menempel pada salju laut, maka massa gabungan akan semakin berat, karena ada material organik hingga mikroorganisme. \u201cAkumulasi mikroplastik mengganggu siklus karbon, merusak agregat alami, menghambat proses remineralisasi, dan efisiensi penyimpanan karbon secara jangka panjang,\u201d katanya. Dia bilang, apa yang terjadi saat ini, menggambarkan bahwa ancaman sedang mengintai bumi dan berdampak pada penurunan ekologis, misalnya gangguan pada biota laut. Hasil pengujian temukan mikroplastik di hampir seluruh spesimen. Ancaman yang mengintai laut dalam, terutama\u00a0 kehidupan mikrofauna seperti foraminifera, kopepoda, dan nematoda yang kesulitan membedakan mikroplastik dengan makanan. Hal itu berisiko mengganggu pencernaan dan menyebabkan stres fisiologis. Peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) meneliti kandungan mikroplastik di dalam air hujan\u2026This article was originally published on <a href=\"https:\/\/mongabay.co.id\/2026\/04\/11\/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mongabay<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut. Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota. Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam\u00a0&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":419,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-418","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-terbaru"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/418","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=418"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/418\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/419"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=418"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=418"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=418"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}