{"id":300,"date":"2026-03-29T12:05:39","date_gmt":"2026-03-29T12:05:39","guid":{"rendered":"http:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/?p=300"},"modified":"2026-03-29T12:05:39","modified_gmt":"2026-03-29T12:05:39","slug":"tanpa-tumbuhan-bagaimana-mamalia-ini-bertahan-di-ketinggian-6-700-mdpl-di-habitat-tertinggi-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/?p=300","title":{"rendered":"Tanpa Tumbuhan, Bagaimana Mamalia ini Bertahan di ketinggian 6.700 mdpl di Habitat Tertinggi Dunia?"},"content":{"rendered":"<p>Pada Maret 2020, sebuah laporan mengejutkan datang dari puncak Gunung Llullaillaco, sebuah gunung berapi aktif di perbatasan Chile dan Argentina. Jay Storz, seorang ahli biologi dari University of Nebraska-Lincoln, berhasil menangkap seekor tikus telinga kuning (Phyllotis vaccarum) hidup-hidup di ketinggian 6.739 meter di atas permukaan laut (mdpl). Penemuan ini seketika meruntuhkan teori lama yang menyebutkan bahwa batas absolut toleransi mamalia terhadap ketinggian hanya berada di sekitar 5.000 meter. Di ketinggian 6.700 meter, oksigen sangat tipis dan suhu ekstrem menjadi tantangan mematikan bagi sebagian besar makhluk hidup. Namun, empat tahun setelah penemuan tersebut, serangkaian data terbaru mengungkapkan bahwa mamalia ini bukan sekadar pengunjung musiman. Mereka adalah penghuni tetap yang tangguh di \u201catap dunia\u201d. Salah satu pembaruan data paling signifikan muncul pada akhir 2023 melalui sebuah ekspedisi lanjutan. Tim peneliti kembali ke wilayah Puna de Atacama dan menemukan puluhan \u201cmumi\u201d tikus yang terawetkan secara alami oleh udara dingin dan kering di puncak-puncak gunung berapi seperti Gunung Sal\u00edn, Pular, dan Copiap\u00f3. Keberadaan sisa-sisa fisik ini memberikan bukti nyata mengenai sejarah panjang keberadaan mereka di sana. Lokasi penemuan spesimen rekor tikus telinga kuning (Phyllotis vaccarum) di puncak Gunung Llullaillaco pada ketinggian 6.739 meter di wilayah Antofagasta, Chile. Titik ini kini diakui sebagai batas habitat mamalia tertinggi di dunia yang pernah tercatat secara ilmiah. Foto: biorxiv.org Awalnya, mumi-mumi ini diduga sebagai hewan yang dibawa oleh bangsa Inka untuk ritual pengorbanan ratusan tahun silam di puncak gunung yang dianggap sakral. Namun, hasil penanggalan radiokarbon membuktikan bahwa tikus-tikus tersebut mati secara alami dalam rentang waktu yang sangat\u2026This article was originally published on <a href=\"https:\/\/mongabay.co.id\/2026\/03\/29\/tanpa-tumbuhan-bagaimana-mamalia-ini-bertahan-di-ketinggian-6-700-mdpl-di-habitat-tertinggi-dunia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mongabay<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada Maret 2020, sebuah laporan mengejutkan datang dari puncak Gunung Llullaillaco, sebuah gunung berapi aktif di perbatasan Chile dan Argentina. Jay Storz, seorang ahli biologi dari University of Nebraska-Lincoln, berhasil menangkap seekor tikus telinga kuning (Phyllotis vaccarum) hidup-hidup di ketinggian 6.739 meter di atas permukaan laut (mdpl). Penemuan ini seketika meruntuhkan teori lama yang menyebutkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":301,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-terbaru"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/300\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/florafauna.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}